makna

Kota dan Altruisme

Kota dan Altruisme

Kisah dari film Pangku memang tidak merepresentasikan latar tempat dengan lanskap kota maupun urban. Latar film itu lebih identik berada pada pinggiran, dengan masih terdapat corak pedesaan (rural). Namun, situasi yang dialami oleh Sartika yang memutuskan berpindah tempat dari asal, untuk mencari penghidupan yang lebih baik kiranya memiliki satu garis kongruen dengan fenomena urban.
23 November 2025, 08:18
Omong Kosong Kelas Pekerja

Omong Kosong Kelas Pekerja

Bayang-bayang teknologi yang sekali waktu menguntungkan, pada waktu lain memperlihatkan sisi ganasnya. Dan kita, manusia-manusia biasa ini, kembali pada insting purba: adaptasi.
26 Oktober 2025, 06:30
Pesantren itu Feodal dan Jualan Agama?

Pesantren itu Feodal dan Jualan Agama?

Pesantren lagi-lagi menjadi “objek” kegaduhan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Belum selesai duka masyarakat pasca ambruknya gedung Ponpes Al Khoziny, khalayak disuguhkan berita tentang framing negatif pesantren yang ditayangkan pada program Expose Uncensored milik Trans 7. Mengapa tayangan itu dinilai framing negatif dan jauh dari etika jurnalistik? Ada beberapa alasan yang cukup kuat untuk mendasarinya
20 Oktober 2025, 15:18
Guru, Alam, dan Manusia

Guru, Alam, dan Manusia

Ada begitu banyak pertanyaan di lapis pembacaan ke sekian setelah menontonnya belakangan. Kita tentu boleh-boleh saja menerima bahwa film itu hebat dan tak tertandingi.
18 Oktober 2025, 15:55
Robohnya Gedung dan Runtuhnya Perhatian, Tragedi Al Khoziny dan Krisis Kebijakan Pesantren

Robohnya Gedung dan Runtuhnya Perhatian, Tragedi Al Khoziny dan Krisis Kebijakan Pesantren

Artikel yang ditulis oleh sahabat saya Lilik Setiawan dengan judul “Tragedi Robohnya Gedung Pondok Al-Khoziny: Antara Takdir atau Jerat Hukum Kelalaian”, yang dipublikasikan pada kanal Rambak.co pada tanggal 14 Oktober 2025 menyoroti permasalahan dilematis yang sedang dialami oleh dunia pesantren di Indonesia. Artikel tersebut menarik karena lebih banyak menyoroti permasalahan dari sudut pandang hukum, namun argumen yang disampaikan cenderung terlalu sederhana, karena hanya didukung terhadap teorisasi hukum yang kurang sesuai dengan kontekstualisasi masyarakat.
16 Oktober 2025, 07:34
Menormalisasi Warga Kota yang Membaca Buku

Menormalisasi Warga Kota yang Membaca Buku

Suatu saat bersama teman yang harus saya samarkan dengan Hamba Allah—kami melakukan perjalanan dari Kota Solo menuju Yogyakarta dengan menggunakan kereta. Hamba Allah adalah seorang pembaca tekun, maka tak mengherankan di sela waktu dalam perjalanan itu ia menyempatkan membaca buku. Meski tak bertahan lama, sebab ada kalanya ia membangun obrolan dan menanggapi percakapan yang saya lontarkan. Aktivitas saling bertindih, membentuk semacam pola.
15 Oktober 2025, 23:21
Mencoba Meneladani Si Penyair

Mencoba Meneladani Si Penyair

Halah, sok-sokan mau menanggung rasa sakit semua orang, padahal menelantarkan anak-istri. Menikah cuma buat lari dari kesepian, tapi nihil cinta, nihil tanggung jawab. Sampai anak sakit-sakitan bahkan meninggal pun tidak peduli, malah kawin dengan perempuan lain. Dasar, tukang selingkuh!
4 Oktober 2025, 19:05
Jangan Salah, di Solo Kita Boleh Mengumpat

Jangan Salah, di Solo Kita Boleh Mengumpat

Salah satu teman saya di instagram suatu waktu pernah mengutarakan pendapatnya. Kurang lebihnya begini: “Ning Solo, wonge soft spoken kabeh, ya, mas.” Kira-kira artinya begini, “Di Kota Solo, orang-orangnya berbicara dengan lembut semua ya, mas.”
30 September 2025, 07:00
Penjara Itu Bernama Perspektif

Penjara Itu Bernama Perspektif

“Setiap buku menyediakan kesempatan untuk mencoba kehidupan lain yang mungkin saja kaujalani.” Itu persis ucapan Mrs. Elm kepada Nora di suatu tempat bernama Perpustakaan Tengah Malam. Tanpa harus mengunjungi perpustakaan itu pun, kita mungkin sudah setuju pada Mrs. Elm. Setiap buku, setiap cerita, membawa kita mencoba kehidupan “alternatif”. Bedanya, kita hanya dalam upaya “lari” sejenak dari kehidupan, bukan mencoba setiap kehidupan lain untuk menghapus penyesalan.
27 September 2025, 09:16
Pelaut, Tragedi, dan Manusia

Pelaut, Tragedi, dan Manusia

Pengarang menggambarkan nelayan seperti Marlin sebagai sosok yang sangat apa adanya, bahkan nyaris tanpa daya, tanpa gairah hidup. Istrinya sering mengeluh perihal jadwal melautnya tak tentu dan urusan dapur selalu bikin pusing. Ternyata, memang begitulah ia. Jika sosoknya hadir dalam sinema-sinema atau vlog hari ini, kita patut menamai cara hidupnya sebagai “slow living”. Tanpa ambisi, bahkan mungkin tanpa visi. Ia, serupa anak muda kebanyakan, menjalani hari dengan biasa-biasa saja. Bedanya, ia punya keberanian untuk berumah tangga.
14 September 2025, 09:00
Dongeng: Menghidupkan yang Tiada, yang Terbuang

Dongeng: Menghidupkan yang Tiada, yang Terbuang

Pembaca kembali melanjutkan hidup. Aku terpikir untuk langsung mengambil buku lain, cerita lain. Bisa saja, sebenarnya, aku larut memikirkan kisah hidup tokoh-tokoh Diane Setterfield dalam Dongeng Ketiga Belas (2009); duduk terpaku selama berpuluh-puluh menit karena terlampau terpukau dan iba pada karakter fiksi, merenungkan kejeniusan pengarang.
5 September 2025, 21:15